(⌐▨_▨) Jati's Personal Blog

Jangan Sampai AI Hanya Berakhir Jadi Video Kucing Joget.

Kalau Anda perhatikan, dunia per AIan ini belakangan lebih banyak dibanjiri dengan output video. Coba saja buka Instagram, TikTok, dan Facebook hari ini. Video AI membanjiri dimana-mana, dan ajaibnya kita sebenarnya tidak peduli asalkan menghibur maka sah-sah saja. Setiap media sosial juga sekarang meminta user yang upload menandai dengan "AI" jika memang dibuat dengan AI agar tidak ada hoax.

Yang paling absurd adalah influencer AI, bagaimanapun anehnya hal ini tapi sangat laku. Bagi saya, influencer AI yang rame ini nonsense. Saya menganggap jika kita mengidolakan misalnya grup band KPOP atau pemain bola maka ini jauh lebih masuk akal, tapi influencer AI? cmon...bahkan orang ini tidak ada.

But, itulah fakta hari ini. Entah gimana kita bisa mempercayai hal yang bahkan tidak ada. Kata Yuval Noah Harari, memang begitu sifat manusia yang sering hanya modal percaya dan kita menjalankannya terus sepanjang jaman. Yuval memberikan contoh kepercayaan kita terhadap "perusahaan", sebenarnya bentuk perusahaan ini ya tidak ada, hanya ada di secarik kertas. Sekalipun abstrak, banyak orang harus mempercayainya dan menjadi sebuah dasar untuk bergerak demi perusahaan.

Chatting karakter dengan AI juga menurut saya nonsense, walaupun sebenarnya bukan hal aneh yang baru karena ada beberapa case orang yang menikah dengan boneka, jadi mencintai ngobrol dengan AI juga sebenarnya malah tidak seabsurd menikahi boneka.

ai-flirt-chatbot

Buat saya, hal ini tetap aneh. Something wrong dengan society jika banyak yang memakai fitur ini karena berarti banyak juga orang kesepian di dunia ini dan tidak menemukan koneksi nyata. Bahkan sekarang ada yang lebih canggih walaupun menurut saya, tetap absurd, yaitu publik figur yang secara sengaja meminjamkan atribut dirinya menjadi AI sehingga semua penggemar bisa chat, ngobrol, atau video call dengannya walaupun itu hanya AI. It sounds weird, seolah terkoneksi tapi itu hanya mesin.

Saya tidak nyinyir dengan Startup atau teknologi yang menyediakan hal ini, karena memang tujuan bisnis ya untung, mau usernya kena mental disease atau enggak karena terkoneksi dengan mesin yang mereka kira punya "perasaan" itu bukanlah urusan mereka.

Namun, saya sangat menunggu suatu hari nanti AI akan menemukan hal-hal yang menjadi masalah kita selama ini seperti penyakit yang mematikan seperti kanker atau perubahan iklim yang semakin hari semakin gamang solusinya.

Atau mungkin sudah? saya belum sempat membaca paper terkait ini. Semoga saja sih ada perkembangan karena kita tidak membuat AI hanya untuk hal-hal remeh temeh seperti influencer AI atau video kucing joget tapi untuk meningkatkan produktivitas, sehingga hal repetitif bisa dikerjakan AI, dan kita harus sibuk berpikir memecahkan masalah masalah kompleks.